Selasa, 07 Februari 2012

Piano

Piano! adalah alat musik yang paling menyentuh jiwa. Harmoni dari rangkaian nada itu menciptakan untaian keindahan tiada tara. Seperti harmoni alam semesta. Meskipun sudah setua ini, aku tetap bertekad, suatu saat orang akan terkesima ketika aku memainkan nada-nadanya.
Keinginan yang menggelora ini mendorongku untuk membeli alat musik semacam piano, sebut saja keyboard. Sebagian malam-malamku musnah bersama pijatan tuts keyboards. Dan setelah dua tahun lebih belajar, ternyata aku gagal total. Tidak satu buah lagupun yang berhasil aku ingat. Semakin aku belajar, semakin bertambah sulit.
Aku bertanya kepada sahabatku, si hati nurani. Mungkin ini yang namanya tidak ada bakat ya? Tapi aku sangat  emosional  bila mendengar suara piano. Dia berkata, "kamu sangat mengagumi piano, namun kamu tidak pernah memahaminya. Seek to understand, before to be understood, kata pencetus 7 habits Stephen Covey".
"Maksudmu..?", tanyaku sambil berguman tak paham.
"Kamu harus sejiwa dahulu dengan piano itu." katanya.
"Maksudmu..?" aku tidak tambah paham.
"Rangkaian nada dalam piano itu haruslah menjadi bagian dari jiwamu. Lekatkanlah dalam hatimu. Rasakanlah keindahannya. Jangan dimasukkan ke pikiranmu, karena mereka berada di otak kananmu, bukan otak kirimu.
Pikiran akan menterjemahkan nada-nada tadi sebagai bagian dari beban otak yang harus dicerna dan disimpan dari memori. Hati akan  smenterjemahkan nada-nada menjadi sebuah rangsangan jiwa keseluruh tubuh. Itulah mengapa para pianis selalu dapat memencet tuts yang tepat tanpa harus melihatnya.

Kehidupan ini juga seperti alat musik. Ianya harus menjadi harmoni jiwa. Ianya bukan berisikan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Namun, kehidupan adalah rangkaian nada keindahan. Kamu tidak harus berkorban dan bekerja keras untuk dapat menikmati keindahan lagunya. Namun setiap detik adalah nada-nada indah yang harus kamu rasakan sebagai rangsangan agar menjadi sebuah lagu yang indah...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar