Suatu saat aku merasakan hidup yang begitu sulit. Apa yang telah kulakukan seperti debu diatas batu yang diterbangkan angin musim kemarau. Musnah tak berbekas. Hatiku berteriak. "Tuhan, kenapa Engkau membebaniku dengan beban yang aku tidak sanggup memikulnya?". Perasaanku berperang dengan bayang-bayang yang menari di seluruh belahan otakku. "Kamu tak becus......!" sebuah bayangan mengutuk. "Kamu tidak sehebat yang kau pikirkan..!" kata bayangan yang lain. "Kenapa kamu memaksakan diri?, ingat hidup ini untuk dinikmati, kenapa harus susah-susah? Apa sebenarnya yang kau inginkan?"."Ingat, hanya dengan berdoa, engkau akan terlepas dari himpitan hidup". Aku terjerat dalam kumparan perasaan yang berbiak tak terkendali. Makin aku memikirkannya, makin membuatku terkunci dalam ruangan hitam pekat. Aku bingung. Aku stress, aku ingin mati saja.
Pada waktu beban memuncak, aku harus tawakkal dan menyerahkan urusan pada Tuhan, berdoa dengan khusu' di sepertiga malam terakhir. Niscaya Tuhan akan memberikan pertolongan. Maka tanpa ragu, berhari-hari akupun melakukannya. Berdiri dan bersujud, menyerahkan urusan kepadaNya. Seminggu kemudian, masalah yang kuhadapi,....bertambah memilukan!. Pekerjaanku kalang kabut, tidak ada yang selesai. Orang-orang disekitarku mengecamku dengan kata-kata yang berpalu godam. Problem bertambah pelik dan makin rumit. Orang-orang mempertanyakan kapabilitasku. "Tuhan, apakah engkau hendak menjerumuskanku?" Kenapa orang-orang memaksaku harus menjadi orang sempurna? Aku hanyalah manusia biasa yang kadang-kadang capai terus menerus berbuat baik.
--
Aku memiliki saudara kembar yang selalu menyertaiku kemana aku pergi. Dia bernama hati nurani. Apapun yang berkecamuk dibenakku, dia selalu dalam posisi yang konsisten untuk menyuarakan kebenaran. Namun sayang, suara dia sangat lemah, sehingga aku sering mengabaikannya.
Dia bilang."Kalau kamu sedang dalam beban yang berat, jangan berdoa". Saya jawab, "Itu rekomendasi bodoh yang pernah aku dengar, dan hanya diikuti oleh orang-orang yang lemah iman"
"Aku serius..." jawabnya sambil menatapku lekat-lekat. "Jangan terpekur dalam doa diruangan yang sunyi, namun bangunlan! makanlah bebanmu itu, sepahit apapun yang harus kau hadapi. just do it. Itulah doa yang sesungguhnya. Jika kamu naik tangga, jangan melihat puncaknya, tapi nikmatilah kontraksi ototmu saat melangkah disetiap anak tangga. Kesabaranmu terletak pada sejauh mana kamu konsisten terhadap problem dihadapanmu, dan kemamuanmu untuk tidak mencari pelampiasan diri dengan alasan mencari solusi alternatif.
Tawakkal adalah tidak mendikte Tuhan dengan hasil yang ingin dicapai. Tuhan lebih pintar untuk memberimu hasil akhir yang paling akurat. Kekuatanmu ditentukan oleh kemampuan fisikmu, bukan oleh perasaanmu.
--
Kulanjutkan hari-hari dengan penuh kesibukan. Beban hidup adalah bagian dari kehidupan. Waktu terasa begitu singkat, aku hanya sempat tidur 2-3 jam sehari, namun badanku terasa segar. Aku fokus berupaya mengatasi masalah dengan seluruh kekuatan yang ada padaku. Tidak ada lagi ketakutan, kekhawatiran dan stress. "Just do it". Dan dalam waktu 1 minggu, seluruh beban berhasil teratasi. Doaku bukan dengan menghabiskan waktu duduk memaku diatas sajadah dalam ruangan sepi. Doaku adalah bulir-bulir harapan yang menyeruakdisela-sela beban yang harus aku taklukkan. Sajadah panjangku adalah kerikil-kerikil kasar yang harus aku lalui sepanjang perjalanan, dan tasbihku adalah butiran keringat yang mengkristal ketika aku harus berperang melawan diriku sendiri, melawan kemalasanku, melawan kelemahanku.
Dan suatu saat, ketika kesulitan hidup itu usai. Saudara kembarku berkata "Bekerja atau belajar adalah bagian dari ibadah, maka kamu tidak perlu memilah-milahkannya. Jadikan seluruh waktumu menjadi ibadahmu, karena kamu tidak ingin dipalingkan Tuhan meski hanya sesaat saja.
Desa Pandan, 25 Dec 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar